Rabu, 03 Juli 2013

ini hatiku yang berharap bisa kau mengerti

Apa yang harus ku katakan??
Sikapmu yang terkadang acuh tak acuh
Slalu membuat hatiku resah dan gundah
Satu pesanmu berarti dalam satu hariku
Tapi apa kamu tau akan hal itu...??
Kau katakan sayang padaku
Kau katakan ingin memiliki ku
Kau panggil aku sayang tiap waktu
Tapi apa sikap tak acuhmu itu juga berarti sayang padaku??
Aku menagis saat ku tak bisa menghubungi mu...
Aku kuatir saat tak dapat kabar darimu...
Aku marah saat kamu bersikap tak acuh padaku...
Aku bertanya dimana sayang mu yang slalu kamu ucapkan lewat bibirmu di depan mataku??
Beritahu aku, agar aku tak terus bertanya dalam hati...
Beritahu aku kabarmu walau itu hanya sekali dalam sehari...
Jangan kau acuh tak acuh padaku, karna itu bisa buatku ragu akan cintamu...
Jangan kauu diam saat aku diam karna aku akan merasa bahwa kau lupa padaku...



Ingi hatiku...
Aku berharap kau bisa mengerti :)

Sabtu, 29 Juni 2013


Coba lihatlah !!
Indahnya, 
Ketika mamah kita tersenyum
bapak kita tertawa 
adek dan orang-orang yang bahagia melihat kita 
Kita yang gagah mampu berdiri dengan seribu impian dan sejuta usaha
Itulah hidup :)

Jumat, 28 Juni 2013

About WOMEN

Wanita...
Wanita itu sebenarnya punya rasa yang unik dia menyukai seseorang tapi terkadang dia butuh waktu untuk mencintainya...

Wanita...
Wanita yang baik itu pasti banyak di sukai lelaki tetapi wanita baik itu hanya mencintai satu lelaki...

Wanita...
Wanita itu tidak suka di diamkan tetapi dia juga tak suka jika dimarahin...

Wanita...
Terkadang wanita itu berusaha senyum di depan lelakinya walau di hatinya terluka karena sikap lelakinya...

Wanita...
Wanita itu lemah fisiknya dari pada lelaki tetapi hatinya lebih kuat dari lelaki...

Wanita...
Wanita yang baik itu tak berani marah kepada lelakinya tapi dia hanya berani mengeluarkan air mata hanya karena dia tak ingin marah dengan lelakinya...

Wanita...
Wanita itu tak suka jika sering mendengar kata Terserah dari lelakinya karena dia butuh kepastian...

Kamis, 20 Juni 2013

inilah hidup

Jauh sudah aku menapaki hidup. Tak terhitung banyaknya pengalaman yang aku dapatkan. Berbagai pelajaran kehidupan telah aku rasakan. Ada yang manis namun tak sedikit yang pahit. Semuanya telah diatur-Nya dengan sangat indah bagi aku, sehingga mampu menjadikan aku seperti ini.

Setiap orang menyikapi perjalanan hidupnya berbeda-beda. Ada yang menerimanya tanpa perlu memikirkannya, namun tak jarang ada yang menikmatinya dengan penuh kesadaran. Di sisi lain, tak sedikit yang berontak dan tidak menerima perjalanan hidupnya dengan lapang dada. Semua punya cara masing-masing menjalani kehidupannya, namun tak ada yang mampu mengelak dari rencana-Nya. 

Sementara aku, aku adalah manusia yang masih dalam taraf belajar menyikapi hidup dengan lebih bijaksana. Aku masih berusaha menyikapi hidup selalu dalam rasa syukur. Namun seiring berjalannya waktu, baru aku sadari bahwa ternyata rencana-Nya untukku memang sungguh indah.

Bagi aku masa lalu yang pahit bukan berarti aku harus selalu menengok ke belakang, bukan pula aku tak ingin maju ke depan dan tak layak dilupakan begitu saja. Atas masa lalu itu membuatku menjadi jauh lebih baik lagi dan sebagai bahan aku untuk melangkah jauh lebih kuat. 

Ku ambil hikmah dari semua cobaan-Mu yang telah engkau berikan ya Alloh. Membuat ku semakin kuat, semakin sabar, semakin dewasa menyikapinya dan membuat ku lebih tenang menghadapi cobaan-Mu ya Alloh. Nikmat mu begitu indah

surat kecil

Hanya engkau ya Alloh mengetahui siapa si dia. Tolong sampaikan kepada si dia karena aku tidak mampu memberitahunya sendiri.

Tolong sampaikan si dia, aku ada pesan buatnya...
Tolong beritahu si dia, cinta agung adalah cintanya...
Tolong sampaikan si dia, cinta karena Alloh tidak ternilai harganya...
Tolong sampaikan si dia, aku mendambakan cinta suci yang terjaga...
Tolong kabarkan si dia, aku mau dia berjaya dalam impian dan cita-citanya...
Tolong kabarkan si dia, aku tidak mau merelakan dia...
Tolong sabarkan si dia, bila jarak menjadi penyebab bertambah ridunya...
Tolong sabarkan si dia, usah ucap cinta di kala cita-cita belum terlaksana...
Tolong sadarkan si dia, aku masih milik keluarga...
Tolong sadarkan si dia, aku masih milik Tuhan Yang Maha Esa...
Tolong tegur si dia, bila dia tenggelam dalam angan-angannya...
Tolong tegur si dia, bila dia mulai mengagumkan cinta manusia...
Tolong katakan pada si dia, dahulukan ibu bapaknya karena di telapak kakinya itu syurganya...
Tolong ingatkan si dia, aku terpikat karena imannya bukan rupanya...
Tolong katakan pada si dia, dahulukan Alloh karena disitu ada syurga...
Tolong nasehati si dia, jangan mendo'akan ku lebih dari dia mendo'akan ibu bapaknya...
Tolong nasehati si dia, mengingatiku lebih dari dia mengingati Yang Maha Kuasa...
Tolong nasehati si dia, jangan mencintaiku lebih dari dia mencintai Tuhan Yang Maha Esa dan kedua orang tuanya... :)


Sabtu, 04 Mei 2013

Surat anak untuk mamah dan bapak

Untuk Mamah dan Bapak,

Dua Insan yang selalu ada di hati,

Yang tak pernah lepas dari pikiran,

Menjadi cambuk panas saat diri ini khilaf,

Menjadi pengiring kebanggaan membayang,

Menjadi obat penenang saat diri ini dilanda kegamangan,

dan menjadi pendobrak batas dari segala kekurangan.



Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Mamah dan Bapak-ku yang semoga Allah selalu memberi perlindungan kepada kalian. Ini hanya sebuah surat Mah, Pak. Sebuah surat yang  sebenarnya telah dari dulu tercatat pasti dalam hati, yang sebenarnya Mamah dan Bapak pun mungkin sudah mengetahuinya, atau sekedar mengharapkannya. Mamah, Bapak, karna itu saat ingin menulis surat ini, anakmu ini merasa ragu, ingin rasanya lebih baik ku utarakan langsung saja saat ngobrol santai bersama Mamah dan Bapak. Namun rasanya, lidah ini tak kan sanggup bergerak untuk menyampaikan semuanya. Yaa, semoga saja, walau surat ini tak pernah ku kirimkan kepada Mamah dan Bapak, semoga Allah mendengarkan curahan hati seorang anak ini, semoga saja Allah memberikan jalan kepada setiap niatan baik yang tertulis dalam surat ini, mengarahkan dan membimbingku hingga niatan itu tak hanya berupa niatan saja, tapi dapat terlaksana. Dan semoga saja surat ini diberkahi dan memiliki daya dan kekuatan Doa hingga ini akan menjadi perantara antara kita, anakmu ini, dan Mamah serta Bapak, juga keluarga yang lain.

Mamah, Bapak, aku pun masih bingung harus memulai dari mana surat ini, yang rasanya akan panjang dan berlembar-lembar andai ku tulis dalam selembar kertas. Aku masih ingat dengan kisah waktu ku kecil dulu. Anak mu ini adalah anak yang sangat cengeng yang tak bisa kalian tinggalkan. Sebentar saja Mamah, Bapak meninggalkanku, maka pasti anakmu ini akan merepotkan setiap orang terdekat karena kerasnya tangisan anakmu ini, hingga salah satu di antara kalian mendekatiku, menampakkan wajah, dan memeluk memenenangkanku. Mamah, Bapak, mungkin Mamah, Bapak bertanya. Kenapa anakmu yang dulu cengeng ini malah membuat Mamah, Bapak menangis saat mengantarkan ku berangkat kuliah di Pekalongan pada tanggal 26 Agustus 2012 lalu? Aku juga ingat Mah, Pak, 3 waktu saat aku ingin sekolah SD, SMP, dan SMA. Saat aku meminta di sekolahkan di sekolah favorit yang letaknya jauh dari rumah, dengan lemah lembut Bapak, Mamah meminta ku untuk sekolah di tempat yang dekat saja. Aku merasakan kekhawatiran Mamah dan Bapak, baik dalam keamananku, keunggulanku, juga dalam kesanggupan kalian dalam memenuhi kebutuhanku akan uang jika aku bersekolah di sekolah favorit. Mamah, Bapak aku benar benar masih ingat kata-kata kalian, “Sekolah di sekolah yang dekat saja Mba. Mamah dan Bapak akan penuhi apa yang kamu minta, kalau memang ada syarat agar Kamu mau sekolah di tempat yang dekat saja". Aku tetap egois ingin sekolah di sekolah favorit alhamdulillah keinginan aku tercapai SD di SDN MKK 2 Tegal ,SMP di SMP N 7 Tegal tetapi setelah SMA aku gak bisa sekolah di tempat favorit karna nilai ujian ku sangat sedikit saat itu juga aku sangat menyesal ,aku jadi males belajar ,liar dan tidak terlalu memikirkan yang namanya sekolah. Lalu masalah pun datang di kehidupan ku yang membuat ku terpukul. Beberapa bulan kemudian badai pun berlalu ,aku mulai kehidupan ku dari NOL, yang mempunyai cita-cita ,mempunyai semangat baru. Maafin Rani ya Mah Pak udah bikin kalian kecewa, bikin nangis ,suatu saat nanti Rani bakal bikin kalian bahagia.

Masih inget bgt Mah Pak waktu Rani sujud minta maaf di kaki Mamah, mamah pesen "Inilah pelajaran buat kamu mba, ambil hikmah dari semua ini. Mamah udah maafin, mamah slalu ada buat kamu, mamah ikhlas kalau mamah harus malu bagaimana pun juga kamu anak mamah yang bakal mamah lindungi, tunjukan mba kalau kamu bisa jadi orang yang bisa di banggakan" ketika aku sujud di kaki Bapak ,Bapak pun berpesan "Ambil hikmah dari semua ini, kesalahan adalah khilaf. Ya Bapak maafin, yang kuat ,sabar ,Bapak pengin liat kamu jadi orang sukses ,belajar dari kesalahan. Alloh sudah menegur mu artinya Alloh ingin kamu berubah menjadi lebih baik"  Aku menangis Mah, Pak kalau ingat saat-saat itu.

Mah Pak terima kasih kalian sampai sekarang pun masih nemenin Rani, masih mau maafin Rani padahal Rani udah bikin kesalahan yang besar. 

Sekarang, anakmu ini sedang jauh tapi bukan meninggalkan mu Mamah, Bapak. Anak mu ini sedang melakukan perjalanan yang sebenarnya titik akhirnya dekat dengan mu Mamah Bapak. Jarak sedang memisahkan kita Mah, Pak. Tapi semoga hati ini selalu terpaut di dalam jalinan keluarga yang tak kan pernah terputus. Sungguh, fikirannku ini lebih sering memikirkan keadaan Mamah dan Bapak. Tanggung jawab besar menjadi seorang anak yang telah menghabiskan banyak keringat dan air mata dari mu Mamah, Bapak. Suatu hal yang merat pula menjadi seorang kakak dari seorang perempuan yang selalu melihat kakanya untuk berbuat sesuatu, meniru, mencontoh, dan meneladani.

Mamah, Bapak, sering orang bertanya, setelah kuliah aku akan melanjutkan kemana. Kebanyakan dari mereka bilang, “Kalau bisa jangan kembali ke rumah, mau jadi apa kamu kalau sudah jauh-jauh kuliah, eh.. malah pulang.! Cari aja kerja di situ, cari uang yang banyak, biar orang tuamu bangga.” Bagiku Mah, Pak, kalimat itu hanya pendapat yang harus didengar tapi tak ada kewajiban untuk melaksanakannya. Masih terbayang wajah Mamah dan Bapak saat kita sedang berbincang-bincang dan mendengar pendapat itu dari salah seorang tetangga kita. Wajah yang benar-banar tak ikhlas anaknya pergi lebih lama dan lebih jauh lagi. Mata Mamah dan Bapak waktu itu menyiratkan kesedihan yang mengharuskan Mamah dan Bapak diam dan mendengar saja. Mamah, Bapak, tenanglah. Tak ada niatan dalam hati ini untuk meninggalkan Mamah dan Bapak lebih jauh dari ini. Anakmu ini tetap Nurani yang dulu. Seorang anak yang cengeng, yang tak bisa jauh dari Mamah, Bapak, yang punya keinginan untuk terus bersama kalian sampai ajal menjemputku suatu saat nanti.

Mamah, Bapak. Aku bangga menjadi anakmu. Anak seorang pasangan sederhana ,selalu hidup sederhana dan selalu penuh dengan ajaran-ajaran tentang kehidupan yang mapan. Aku bangga menjadi anakmu Mah. Sosok mamah yang penuh dengan ketelitian, kelemah lembutan, dan rasa

Mamah, Bapak, sekarang anak mu ini dikenal dengan sebutan “aktivis”. Entah apa arti kata itu Mah, Pak. Jangan tanyakan padaku. Aku pun tak lebih memahaminya di banding sebuah kamus yang sudah tercetak lama. Memang Mah, Pak, aku sekarang punya beberapa kegiatan yang haus aku lakukan di setiap hari yang aku lalui. Memang Mah, Pak, semuanya aku tulis di dalam beberapa buku dan lembar kertas untuk mengingatkan aku apa saja yang harus aku lakukan. Bukankah anakmu ini memang pelupa Mah? Bukankan anakmu ini sering kali lalai Pak? Dulu masih ada Mamah dan Bapak yang selalu mengingatkanku untuk makan, belajar, ibadah, bahkan kegiatan lain. Mamah dan Bapak rasanya lebih tau dari pada diriku sendiri. Sekarang kita sedang tak bersama, aku butuh cara lain untuk mengagendakan semuanya Mah, Pak. Meski itu sama sekali tak bisa menggantikan Mamah dan Bapak.  Tapi, aku senang setiap di telfon selalu menanyakan ku, “Kamu sudah makan mba? Sudah belajar? Sudah sholat? Gimana kegiatan hari ini?”. Selalu di ingatkan melalui via sms "jangan lupa makan ,sholat ,belajar ya mba" setiap hari dan setiap waktu (meskipun terkadang aku yang tidak membalas sms nya karna disibukan dengan tugas). Itu menyenangkan dan menenangkan Mah. Perhatianmu meluluhkan kecapeaan dan keletihan hari-hari seorang “aktivis peradaban”.

Mah Pak, aku harap Mamah dan Bapak tidak sedang mempertanyakan dimana rumahku kelak akan ku bangun. Bukankah dulu kita sudah pernah membicarakannya? Bukankah dulu kita sudah saling menjanjikan. “Mah, seandainya Mamah punya uang berlebih, beli tanah di belakang rumah kita ini ya Mah. Kalau tidak ada kesempatan untuk itu, Mamah dan Bapak tenang saja. Biarkan aku yang membelinya sendiri. Yang penting sampai hari itu tiba, pastikan tanah di belakang rumah kita ini tak terjual kepada siapa pun.” Disanalah Mah Pak, aku akan membangun rumahku. Aku tak ingin berada lebih jauh lagi Mah. Aku tak ingin hanya setengah dari umur Mamah dan Bapak yang dihabiskan untukku. Aku ingin, seumur hidup kita bisa menghabiskan waktu bersama. Aku ingin di saat-saat terakhir hidupku, ada didekat Mamah dan Bapak. Dan rasanya itu pula yang Mamah dan Bapak inginkan. Iya kan Mah? Iya kan Pak? Sekarang Mah Pak, aku sudah membuat denah bagaimana dan dimana rumahku akan di bangun di tanah itu. Aku sudah merencanakannya Mah. Aku sudah mempersiapkannya Pak. Bukan hanya tanah di belakang rumah kita. Beberapa tanah yang lain di sekitarnya akan aku beli. Akan aku berdayakan tanah itu menjadi BPS tempat aku praktek ,akan ku pasang plang Nama ku disitu. Itulah rencana anakmu ini. Dirumah kita itu kita akan selalu bersama. Adek yang sekarang katanya ingin jadi dokter kejarlah cita-cita mu dek, kalau bisa juga ndak jauh dari situ kerjanya. Biar kita satu keluarga lengkap. Pasti menyenangkan. Aku ingin kebermanfaatan yang aku kejar bisa menjadi amal jariyah yang tertuju kepada Mamah dan Bapak kelak.

Mah Pak, semoga ikatan batin kita selalu terjaga sampai ajal memisahkannya. Sampai waktu itu tiba, aku akan terus berusaha menyenangkan hati Bapak dan Mamah. Di sini anakmu ini sedang berjuang Mah Pak. Doakanlah anakmu ini selalu. Walau pun tanpa aku minta pastinya Mamah dan Bapak akan melakukannya. Mamah, Bapak hati ini benar-benar memahami betapa Mamah dan Bapak mengkhawatirkan aku. Setiap di telfon, pasti tak lupa Mamah dan Bapak menanyakannya. Saat yang mengangkat telfonku adalah mamah, pasti mamah menanyakan sudah makankah aku, bagaimana kabarku, dll sebagainya, saat telfonku beralih tangan ke Bapak, bapak pun mengulangi pertanyaan pertanyaan itu, padahal aku tahu, sejak pertama Mamah mengangkat telfonku, Bapak sudah ada di samping Mamah dan mendengar betapa baiknya kabar anakmu ini. Iya kan Mah? Aku mendengar langkah kaki Bapak saat telfonku baru diangkat. Betapa khawatirnya Mamah dan Bapak. Ya aku mungin tak bisa benar-benar memahaminya, tapi aku bisa mengerti Mah, Pak. Ketahuilah bahwa anakmu ini disetiap saat yang sama juga mengalami penyiksaan kekhawatiran hati itu. Aku pun sama Mah, Pak. Sangat mengkawatirkan keadaan Mamah dan Bapak di sana. Semua orang yang selalu mendukungku dari jauh di sana, aku begitu mengkhawatirkan semuanya. Karena itu pula lah aku pun selalu bertanya keadaan tiap tiap semuanya. Terutama Mamah dan Bapak, adek, kakek dan nenek juga. Mamah Bapak, sedih rasanya ketika aku merasakan ada hal yang Mamah dan Bapak tutupi saat aku bertanya kabar. Aku merasakannya, saat getaran suara Mamah sedang melemah, saat itulah Mamah sedang sakit. Saat jawaban Bapak tak selancar biasanya, saat itulah Bapak sedang tak sesehat biasanya. Tapi betapa sedihnya Mah Pak, di saat seperti Mamah dan Bapak masih berusaha membahagiakanku, “Mamah dan Bapak baik-baik saja Mba. Sehat wal afiat.” Lantangmu. Dan aku pun hanya bisa menjawab,”Baguslah kalau begitu Mah, Pak. Aku pun sama, Sehat dan Baik.” Aku berharap semoga jawaban itu bisa menenangkan dan membawa kesehatan serta kekuatan kepada Mamah dan Bapak.

Mamah dan Bapak yang terlanjur banyak menghabiskan waktu dan tenanga untukku. Pastinya, sampai kapan pun, aku tak bisa membalas semua kebaikan mu yang mungkin Mamah dan Bapak sendiri tak sadar telah melimpahkan begitu banyak kepadaku. Mah, Pak, suatu saat nanti kita akan melaksanakan Ibadah Haji bersama-sama. Menikmati saat paling dekat dengan Allah. Semoga Allah merestuinya. Mah Pak, suatu saat kita akan melihat Ayu adek ku akan menjadi orang sukses, lebih sukses dari aku tentunya. Aku akan berusaha untuk itu Mah. Semoga Allah memberikan jalan-Nya.

Jika aku tuliskan semua curahan pikiranku, rasanya tak bisa aku tak sanggup menyuruh dan memerintahkan jari-jari ini untuk terus bergerak mengetikkan huruf-huruf luapan hati. Dan aku sadar betapa pun aku ungkapkan semuanya, pasti apa yang ada dalam hati Mamah dan Bapak jauh lebih banyak dan lebih berarti dari itu. Biarlah Mah, Pak. Aku menceritakan persaanku dengan bentuk lain. Dengan usaha tiada henti sampai di titik akhir nanti, saat kita sekeluarga akan bersama kembali.

Tunggu aku kembali Mah, Pak. Terimakasih atas segala yang telah Mamah dan Bapak upayakan untukku. Aku tidak akan menyia-nyiakannya Mah Pak. Segala hasil dari semua usaha ini akan menjawab semuanya. Teruslah kasih aku motivasi dan nasehat ya Mah Pak aku masih membutuhkan itu.

Semoga Allah merestui semua ini Mah, Pak. Semoga keberkahan selalu mengiringi jalan cinta ini, jalan cinta seorang anak kepada kedua orangtuanya ,berbakti kepada kedua orang tuanya. Saat aku kembali nanti, izinkan aku bersimpuh kepada Mamah dan Bapak, meminta maaf. 

Semoga Allah selalu memperhatikan Mamah dan Bapak, menyayangi dan mengasihi Mamah dan Bapak, sebagaimana telah Mamah dan Bapak berikan sepenuhnya saat aku masih kecil. Aamiin.

Salam hormat dan penuh kasih dariku Mah, Pak.




Pekalongan, 29 April 2013
 
Nurani Rizki Amalia 
Anakmu

 

 

Selasa, 16 April 2013

*kata dosen saya bilang*

JANGAN PERNAH MENYESAL MASUK KEBIDANAN, jika anda menyesal dan ingin keluar maka keluarlah dari sekarang. Karena profesi ini bukanlah profesi main-main, menyangkut nyawa manusia. Akan ada banyak ibu dan bayi yang menderita jika kita melakukan segala sesuatunya dengan tidak ikhlas. Akan banyak bidan-bidan judes yang akan terlahir dan meramaikan jagat image jelek dari bidan itu sendiri nantinya. Sungguh sesuatu  yang sangat memprihatinkan. Dan anda mahasiswa kebidanan inilah yang akan berperan sebagai "agent of change" untuk merubah semua paradigma jelek yang terlanjur melekat pada diri seorang bidan.

Ketika melangkahkan kaki ke Rumah Sakit, maka tinggalkanlah segala keangkuhan, kesombongan dan sifa-sifat jelek lainnya. Posisikanlah diri anda sebagai seseorang yang akan berperan dan membantu meringankan beban orang lain. Bukanlah itu adalah suatu tugas yang mulia?

Hadapilah pasien layaknya keluarga kita sendiri. Posisikan mereka sebagai sosok orang-orang terdekat kita. Anggaplah pasien sebagai ibu, kakak, tante kita sendiri. Jika ditinjau pada saat ini memang bidan menempati posisi sebagai sosok yang mengerikan di RS. Karena biasanya ketika sang ibu dalam keadaan teriak-teriak menahan sakit saat proses persalinan berlangsung tak jarang para bidan-bidan senior yang memarahi ibu tersebut, menyuruh diam dengan sedikit bentakan *miris* :(

Hal tersebut terlebih dikarenakan cara berkomunikasi bidan itu sendiri. Apakah mereka lupa pernah mempelajari "Komunikasi dan konseling dalam kebidanan"? Bagaiman cara komunikasi terpenting dengan seorang pasien? Padahal dengan penampilan yang sopan, tutur bahasa yang baik, bisa mengurangi penderitaan pasien lho! Dengan sedikit perhatian ikhlas saja pasien dapat menganggap bidan sebagai orang yang berkompeten dan berkualitas.

Wajah bisa gak terlalu cantik, tapi dengan sedikit senyuman, keramahan maka akan bisa terlihat lebih baik dan manis :)

INGATLAH!!satu kebaikan yang kita tanamkan kepada pasien, maka akan menimbulkan banyak kebaikan-kebaikan lainnya.

Rawatlah pasien dengan hati, tidak sekedar dengan tangan dan raga. Gunakanlah keihklasan dalam bekerja.

Bidan bukanlah pembantu dokter spesialis kandungan, tetapi lebih merupakan mitra dokter. Oleh sebab itulah bidan diminta untuk bisa berfikir kritis. Dan bagaimana bisa bidan berfikir kritis jika tidak memperkaya kompetensi dan ilmu pengetahuannya sendiri.

Jangan hanya ingin menjadi kepala bagian, dosen, direktur RS saja....tetapi juga niatkanlah kepada diri anda untuk bisa mengabdi di klinik. Bekerja di RS itu tidak berat, jika kita memang bekerja dari hati dan ikhlas.

Dan tanamkanlah dalam diri anda sekalian bahwa ketika melangkah pulang meninggalkan gerbang RS, anda bisa tersenyum bahagia karena telah MEMBUAT 1 KEBAIKAN untuk pasien anda....